5 Komponen Biaya RME 2026 yang Wajib Masuk Anggaran Klinik Anda

Halo, Dok. Memutuskan untuk beralih ke RME (Rekam Medis Elektronik) di tahun 2026 adalah langkah besar. Selain karena mandat regulasi, ini adalah upaya menaikkan kelas pelayanan klinik Dokter.

Namun, sebagai pemilik bisnis, Dokter harus jeli. Banyak sejawat yang terjebak sticker shock (kaget harga) di tengah jalan. Awalnya mengira hanya perlu membayar biaya langganan aplikasi sekian rupiah, ternyata di bulan kedua dan ketiga muncul kebutuhan beli tablet baru, biaya perbaikan internet, hingga biaya fitur tambahan yang tidak terduga.

Agar RAB (Rencana Anggaran Biaya) klinik Dokter presisi dan tidak mengganggu arus kas operasional, berikut adalah 5 komponen biaya RME yang wajib Dokter bedah sebelum tanda tangan kontrak dengan vendor manapun.


1. Biaya Perangkat Lunak (Software License)

Ini adalah biaya yang paling terlihat. Namun di tahun 2026, model biayanya terbagi dua:

CAPEX (Capital Expenditure): Dokter membeli putus aplikasinya (biasanya RME On-Premise yang diinstal di server sendiri). Harganya mahal di depan (bisa puluhan juta), tapi tidak ada biaya bulanan. Risikonya? Kalau rusak/usang, biaya perbaikannya mahal.

OPEX (Operational Expenditure): Dokter berlangganan bulanan/tahunan (SaaS/Cloud seperti Medisy). Biayanya ringan di awal (misal: ratusan ribu/bulan), sudah termasuk sewa server dan update.

Tips: Untuk klinik pratama/mandiri, model OPEX (SaaS) jauh lebih aman bagi cashflow dan meminimalisir risiko teknologi usang.

2. Biaya Infrastruktur Keras (Hardware)

Aplikasi RME tidak bisa berjalan di udara, butuh "wadah" fisik. Cek inventaris klinik Dokter saat ini:

Gadget Input: Apakah Dokter butuh Laptop di meja periksa? Atau cukup Tablet? Pastikan spesifikasinya mumpuni (RAM minimal 4GB/8GB) agar tidak lemot saat buka browser.

Printer: RME mengurangi kertas, tapi tidak menghilangkan 100%. Dokter butuh Printer Thermal (untuk cetak nomor antrean & label obat/etiket) dan Printer biasa (untuk surat rujukan/surat sakit).

Anggaran: Sisihkan dana peremajaan. Jangan paksakan PC tua zaman Windows 7, karena bisa menghambat bridging keamanan data.

3. Biaya Konektivitas (Internet & Listrik)

RME berbasis Cloud (yang terintegrasi SATUSEHAT) adalah "makhluk" yang hidup dari internet.

Primary Link: Biaya langganan Fiber Optic (WiFi) yang stabil.

Backup Link: Ini sering luput! Dokter wajib menganggarkan biaya modem/orbit/tethering HP sebagai cadangan jika WiFi mati. Ingat, pelayanan tidak boleh berhenti hanya karena internet down.

Meskipun terlihat kecil, biaya kuota data cadangan ini harus masuk pos pengeluaran rutin bulanan.

4. Biaya SDM (Pelatihan & Implementasi)

Teknologi canggih tidak ada gunanya jika SDM gagap teknologi.

Masa Transisi: Di bulan pertama, pelayanan mungkin melambat karena staf sedang belajar. Ada potensi lembur admin.

Biaya Training: Beberapa vendor mengenakan biaya tambahan untuk sesi pelatihan tatap muka (on-site training).

Tips: Pilih vendor yang menyediakan Tutorial Video Gratis atau sesi Zoom tanpa batas (seperti Medisy), sehingga Dokter bisa menghemat biaya training SDM baru di masa depan.

5. Biaya Fitur Tambahan (Add-ons & Integrasi)

Ini adalah "jebakan" biaya yang sering tidak disadari. Aplikasi dasarnya mungkin murah, tapi fitur krusialnya ternyata bayar terpisah. Perhatikan biaya variabel seperti:

Kuota WhatsApp Blast: Untuk notifikasi pengingat kontrol pasien (biasanya dihitung per pesan terkirim).

E-Meterai: Untuk dokumen legal digital (jika diperlukan).

Biaya Bridging: Pastikan vendor tidak memungut biaya ekstra setiap kali ada update aturan bridging dari BPJS/Kemenkes.


Kesimpulan

Dok, RME bukanlah "pengeluaran hangus", melainkan investasi efisiensi. Dengan menganggarkan 5 komponen di atas secara disiplin, Dokter akan terhindar dari boncos.

Saran saya: Cari vendor RME yang menganut prinsip "All-in-One Pricing" atau transparan soal harga, sehingga Dokter tidak dipusingkan dengan biaya-biaya siluman di kemudian hari. Fokus Dokter adalah melayani pasien, biarkan anggaran bekerja seefisien mungkin.

Tag